Sudahkah Kita Merdeka Berpikir

Sudahkah Kita Merdeka Berpikir?

giddimint.com – Stockholm is a State of Minds! Sebuah billboard besar terpampang di hall kedatangan Bandara Arlanda, Stockholm, Swedia. Tak seperti bandara-bandara lain yang biasanya menyambut para pendatang dengan papan iklan besar yang menampilkan keindahan alam, bandara tersebut justru menyapa terlebih dulu para pelajar dan peneliti. Welcome students and researchers!

Negara tempat berasalnya penghargaan Nobel itu memang menjadikan inovasi sebagai “mantra” mereka. Mereka juga menempatkan para peneliti dan pelajar sebagai garda terdepan yang menjadikan negara ini sebagai salah satu negara paling makmur di seluruh dunia.

Negara yang dibangun dengan pemikiran. Negara yang mengandalkan pemikiran sebagai sumber daya utamanya.

Proklamasi

Kita ingat betul, naskah proklamasi kita sangat singkat. Namun, sangat dalam makna implisitnya, dan implikasi yang diakibatkannya.

Cobalah lihat alinea pertamanya: “Kami bangsa Indonesia, menyatakan dengan ini kemerdekaan Indonesia”. Sungguh luar biasa determinasi para pemimpin kita yang berani menentukan nasibnya sendiri dan melantangkannya ke seluruh dunia.

Aline kedua tidak kalah menariknya: “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya”. Bagian ini menyiratkan bagaimana proses itu dilakukan secara cepat, namun hati-hati dan penuh perhitungan agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Jelas terlihat, bukan hanya unsur kecermatan dan ketaktisan, tapi juga kearifan. Tidaklah mungkin ramuan brilian, tapi concise ini dapat tercipta jika bukan oleh para pemikir.

Proklamasi kemerdekaan kita adalah titik kulminasi pikir, bukan kulminasi power atau kulminasi perjuangan fisik dan senjata. Bangsa ini lahir dari buah pikir!

Jadi, proklamasi adalah suatu state of minds, bukan state of power.

Pendidikan sebagai panglima

Sudahkah di usia kemerdekaan yang ke-71 ini kita memiliki kemerdekaan berpikir? Bukan kemerdekaan yang diisi hanya dengan mengandalkan otot, kekuasaan dan kekuatan politik.

Kemerdekaan berpikir hanya dapat diraih jika yang dijadikan panglima adalah http://www.pelajaransekolahonline.com pendidikan, bukan yang lain.

Dari sejarah kita belajar bahwa perjuangan kemerdekaan baru terlihat titik terangnya pada saat Budi Oetomo tampil di depan. Juga, mulai terasa akselerasinya begitu Bung Hatta pulang dari Belanda setelah ‘bertafakur’ selama 11 tahun di sana.

Aroma kemerdekaan juga mulai tercium setelah Suryadi Suryaningrat,– yang kemudian menanggalkan kebangsawanannya  menjadi Ki Hajar Dewantara selama masa pembuangannya di Belanda, –mulai mengirimkan sinyal kemerdekaan melalui tulisan-tulisannya.

Banyak lagi tokoh nasional yang menjadikan buku, dan daya berpikir mereka sebagai senjata untuk merebut kemerdekaan. Kemerdekaan berpikir!

Nikmat kemerdekaan

Hanya bangsa yang memiliki kemerdekaan berpikir yang menempatkan inovasi dan kreatifitas sebagai garda terdepan dalam mengisi kemerdekaan. Apakah kita, bangsa Indonesia, sudah demikian?

Hampir semua pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di negara-negara Eropa mengatakan bahwa hal terhebat yang mereka dapatkan bukanlah ilmu pengetahuan itu sendiri, tapi ruang besar yang diberikan kepada mereka untuk berani memberikan ide-ide inovatif, dan terobosan-terobosan yang tidak main stream.

Mereka merasakan betul ‘nikmat’ kemerdekaan berpikir justru pada saat menimba ilmu di negeri orang. Kenapa?

Kemerdekaan hakiki haruslah mampu memerdekakan akal pikiran, memerdekakan nurani, memerdekakan tindakan, dan memerdekakan ruh bangsa. Karena nikmat kemerdekaan bukan hanya nikmat lahir, namun juga nikmat kemuliaan sebagai bangsa. Seperti syair indah himne Kemerdekaan karya Ibu Soed:

Terpujilah kau dewi kemerdekaan
Yang disujudi putra negara
Dihikmatkan kau dengan nyanyian pujaan
Abadi mulia mulia raya

Demikian artikel tentang” Sudahkah Kita Merdeka Berpikir ”, semoga bermanfaat.

Baca Juga Artikel Lainnya :

Cerdaskan Siswa, Kapal Polair Disulap Jadi Perpustakaan Terapung

giddimint.com – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Sumsel) berupaya untuk mencerdaskan para pelajar di daerah kepulauan yang sulit terjangkau.

pol air

Salah satu upaya tersebut dengan melakukan modifikasi terhadap kapal Polisi Perairan (Polair) KP Sei Rawas menjadi perpustakaan terapung.

“Kapal Polair KP Sei Rawas yang diubah menjadi perpustakaan terapung yang dalam pelaksanaan patroli di masyarakat perairan Sungai Musi dapat dikunjungi masyarakat, khususnya anak-anak bisa membaca buku-buku pengetahuan,” ungkap Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Polisi Agung Budi Maryoto, Senin (23/1/2017).

Selain mengedukasi anak-anak di pulau pedalaman dengan ilmu pengetahuan, kata dia, pihaknya juga memberikan beberapa informasi mengenai bahaya narkoba. “Pelajar sangat antusias dan memanfaatkan perpustakaan terapung,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan http://www.seputarpendidikan.com/2017/02/contoh-dan-cara-membuat-proposal-usaha.html

Dia mengatakan, nantinya fasilitas perpustakaan terapung perlu ditambah monitor atau komputer jinjing untuk anak-anak agar mereka bisa bermain sekaligus untuk mendapatkan informasi mengenai bahaya narkoba.

Dia menjelaskan perpustakaan terapung merupakan kapal bekas Dirpolair yang telah dimodifikasi dan dilengkapi buku-buku dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Palembang.

Dia mengatakan, perpustakaan terapung tidak hanya berdiam di Pulau Kemaro, tetapi nanti akan keliling ke dermaga-dermaga masyarakat sepanjang aliran Sungai Musi untuk menyambangi anak-anak di sana,

Untuk sementara, kata dia, baru satu unit kapal. Ke depan pihaknya akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan kota setempat untuk menambah perpustakaan terapung. Menurut dia, Dirpolair menyiapkan kapalnya dan Disdik menyediakan buku-bukunya.

Baca Juga :

Kecewa, Diana Limbong Sebut Sandy Tumiwa Plin-plan

giddimint.com – Diana Limbong tak tahu alasan Sandy Tumiwa menceraikan dirinya. Dia pun enggan menduga-duga adanya pihak lain yang membuat Sandy bersikap demikian. Hanya saja, Diana tidak menampik pribadi mantan suaminya yang plin-plan.

sandi

“Saya nggak tau, mas Sandy kan plin plan. Dia ikut saja, kalau ke timur ikut. Padahal saya kalau dengar apa-apa dari mas Sandy masuk kuping kanan keluar kuping kiri,” ujar Diana Limbong, lewat sambungan telepon, Kamis (9/3/2017).

Diana tidak menyangka, apa yang sudah dilakukan untuk Sandy justru berbuah pahit. Padahal, dia sudah cukup berperan dalam kasus Sandy kemarin. “Saya sudah memberikan yang terbaik untuk dia. Peranan saya sangat kuat dalam kasus dia kemarin,” paparnya Profil Pendiri Microsoft

Kekecewaan Diana makin memuncak, mengetahui Sandy mengkonfirmasi status pernikahannya secara sepihak. Menurut Diana, seharusnya Sandy lebih dulu memberitahunya, sebelum memberi pernyataan soal perceraian itu.

“Saya kaget, ada saya di sebelah, dia bilang kita bukan suami istri. Saya kecewa. Kalau pun mau mengeluarkan statemen itu harus ada konfirmasi kedua belah pihak. Jangan cuma satu pihak,” kata Diana Limbong.

M. Ridwan, pengacara Sandy Tumiwa membenarkan kliennya sudah cerai dari Diana Limbong. Perceraian itu terjadi saat Sandy masih mendekam di tahanan.

Baca Juga :